Adab Sebelum Ilmu: Mengapa Orang Tua Harus Memprioritaskan Karakter di Atas Nilai Akademik?

Buku terbuka bertuliskan Adab sebelum Ilmu
Sumber: Ilustrasi Canva AI-Generated

Di zaman sekarang, banyak orang tua berlomba-lomba memasukkan anak ke les tambahan agar unggul dalam matematika atau bahasa asing. Namun, ada satu tradisi pendidikan Islam yang mulai terlupakan, yaitu Adab Sebelum Ilmu.

Para ulama salaf terdahulu sangat menekankan hal ini. Imam Malik rahimahullah pernah mendapatkan nasihat dari ibunya: “Pergilah ke Rabi’ah (seorang guru), pelajari adabnya sebelum engkau mempelajari ilmunya.”

Mengapa adab harus didahulukan? Dan bagaimana cara menerapkannya dalam pola asuh modern? Mari kita bahas mendalam dalam artikel ini sebagai bagian penting dari proses pendidikan anak yang diridhai Allah.

1. Ilmu Tanpa Adab Ibarat Pohon Tanpa Buah

Dalam pandangan Islam, ilmu bukanlah sekadar tumpukan informasi di otak, melainkan cahaya yang menuntun pada perbuatan baik. Jika seorang anak pintar (memiliki hasil akademik bagus) tetapi tidak memiliki adab kepada orang tua atau guru, maka ilmunya menjadi tidak berkah.

Adab adalah wadah, sedangkan ilmu adalah isinya. Sebagaimana dijelaskan dalam literatur klasik mengenai kitab Ta’lim Muta’allim, keberhasilan seorang penuntut ilmu sangat bergantung pada bagaimana ia memuliakan ilmu dan gurunya. Tanpa wadah (adab) yang baik, ilmu tidak akan memberikan manfaat jangka panjang. Itulah mengapa kita perlu menghargai keunikan fitrah anak sambil terus membingkainya dengan akhlakul karimah.

2. Adab Membuat Ilmu Lebih Mudah Diserap

Secara psikologis, anak yang memiliki adab (seperti sikap rendah hati dan rasa hormat) akan lebih mudah menerima pelajaran. Hal ini juga didukung oleh konsep Kecerdasan Emosional (Emotional Intelligence), di mana kemampuan mengelola emosi dan etika sosial berperan besar dalam keberhasilan belajar seseorang.

  • Rendah Hati (Tawadhu): Anak yang merasa “sudah tahu segalanya” karena mengejar nilai tinggi sering kali menutup diri dari nasihat.

  • Menghormati Guru: Keberkahan ilmu mengalir dari ridha seorang pengajar. Adab membuat interaksi belajar menjadi lebih harmonis dan bermakna.

3. Adab Adalah Warisan Terbaik Orang Tua

Rasulullah SAW bersabda: “Tiada suatu pemberian yang lebih utama dari orang tua kepada anaknya selain adab yang baik.” (HR. Al-Hakim).

Saat kita terlalu fokus pada hasil (nilai ujian), kita sering kali memaklumi perilaku buruk anak asalkan nilainya bagus. Ini adalah kekeliruan besar. Nilai tinggi bisa dicapai dalam hitungan bulan, namun membentuk adab memerlukan konsistensi proses selama bertahun-tahun.

Strategi Praktis Mengajarkan Adab di Rumah

Bagaimana cara memulai pendidikan adab bagi anak?

  1. Keteladanan (Uswah Hasanah): Anak adalah peniru ulung. Mereka tidak belajar adab dari ceramah kita, tapi dari bagaimana kita berbicara kepada pasangan, tetangga, dan kepada mereka sendiri.

  2. Membiasakan Kalimat Thayyibah: Ajarkan anak untuk selalu mengucapkan Tolong, Maaf, dan Terima Kasih. Dalam Islam, biasakan juga Bismillah sebelum memulai dan Alhamdulillah setelah selesai.

  3. Adab Terhadap Buku dan Ilmu: Ajarkan anak untuk merapikan bukunya, tidak meletakkannya sembarangan, dan mencintai buku sebagai sumber pengetahuan.

  4. Melatih Kesabaran dalam Mendengar: Salah satu adab ilmu yang paling dasar adalah menyimak saat orang lain berbicara. Ini adalah keterampilan sosial sekaligus spiritual yang sangat penting.

Kesimpulan

Mengejar prestasi akademik tentu boleh, namun jangan sampai mengorbankan adab. Mari kita kembalikan semangat pendidikan Islam yang menempatkan karakter sebagai fondasi utama. Dengan adab yang kuat, ilmu yang didapat anak akan menjadi manfaat bagi dirinya, orang tuanya, dan umat manusia.

“Adab apa yang menurut Ayah/Bunda paling sulit diajarkan kepada anak di era digital ini? Mari berbagi cerita di kolom komentar agar kita bisa saling menguatkan.”

Keranjang Belanja