Cara Membangun Kedekatan Emosional dengan Anak Sejak Dini

Kedua orang tua yang sedang membangun kedekatan dengan kedua anaknya
Sumber: Pustaka Canva/amirulsyaidi

Membangun kedekatan emosional (bonding) dengan anak bukan sekadar tentang menghabiskan waktu bersama, melainkan tentang kualitas interaksi yang membekas di hati. Dalam dunia psikologi, ini disebut dengan secure attachment. Namun, bagi seorang Muslim, membangun kedekatan emosional dengan anak memiliki dimensi yang lebih dalam: ini adalah bagian dari ibadah dan penunaian amanah dari Allah SWT.

Banyak orang tua merasa cukup dengan memenuhi kebutuhan materi anak. Padahal, jiwa anak membutuhkan “nutrisi” berupa kehadiran orang tuanya. Seperti yang dibahas dalam artikel sebelumnya, Parenting Bukan Tentang Mengatur Anak, Tapi Hadir Bersama Anak, esensi dari pengasuhan adalah menjadi sahabat perjalanan bagi jiwa mereka, bukan sekadar menjadi penguasa di rumah.

Mengapa Kedekatan Emosional Harus Berlandaskan Tauhid?

Dalam konsep Tauhid, kita meyakini bahwa Allah adalah Al-Wadud (Maha Mencintai). Orang tua adalah perantara pertama bagi anak untuk mengenal sifat kasih sayang Allah. Jika orang tua hadir dengan penuh kelembutan, anak akan lebih mudah memahami bahwa Penciptanya jauh lebih lembut dan penyayang.

Tanpa landasan Tauhid, kedekatan emosional berisiko menjadi ketergantungan yang berlebihan (attachment issues). Kita ingin anak dekat dengan kita agar mereka merasa aman, namun tetap mengarahkan rasa aman yang hakiki tersebut kepada Allah SWT. Inilah tugas besar orang tua: membangun jembatan emosi agar anak merasa dicintai oleh manusia, sekaligus merasa dijaga oleh Tuhan.

Langkah Praktis Membangun Kedekatan Emosional

1. Hadir Utuh dengan "Quality Time"

Kedekatan tidak tumbuh dari sisa-sisa waktu di akhir hari yang melelahkan. Ia tumbuh dari waktu yang sengaja dikhususkan. Cobalah untuk meletakkan ponsel dan memberikan perhatian penuh minimal 15 menit setiap hari.

Saat Anda hadir secara utuh, Anda sedang menjalankan peran sebagai pendidik yang autentik. Untuk memahami bagaimana menerapkan batasan yang sehat tanpa merusak kedekatan ini, Anda perlu [Mengenal Perbedaan Disiplin Positif dan Pola Asuh Otoriter] agar anak tidak merasa terkekang saat Anda sedang mendekat secara emosional.

2. Validasi Perasaan dan Mendengar Aktif

Anak sering kali belum mampu mengolah emosi besar seperti marah atau kecewa. Orang tua yang hadir secara emosional akan membantu anak melabeli perasaan tersebut. “Kamu sedih ya karena mainannya rusak?” Kalimat sederhana ini membangun rasa percaya bahwa orang tuanya adalah pelabuhan yang aman.

Dalam perspektif Tauhid, validasi perasaan adalah bentuk menghargai fitrah manusia yang diciptakan Allah memiliki emosi. Kita mendengarkan mereka sebagaimana kita ingin didengar dalam doa-doa kita kepada Allah.

3. Sentuhan Fisik dan Kata-Kata Thayyibah

Rasulullah SAW adalah teladan dalam menunjukkan kasih sayang fisik. Beliau sering mencium cucu-cucunya, mendekap mereka, dan mengusap kepala mereka. Sentuhan fisik melepaskan hormon oksitosin yang memperkuat ikatan emosional.

Gunakan pula kata-kata yang baik (Thayyibah). Setiap pujian dan dukungan yang Anda berikan harus disandarkan kepada Allah, misalnya dengan mengucap “Barakallahu fiik” atau “Masya Allah, kamu hebat hari ini”. Ini adalah bagian dari [Metode Menanamkan Akidah pada Anak Melalui Kegiatan Sehari-hari].

Menghadapi Tantangan dalam Membangun Bonding

Membangun kedekatan tidak selalu mulus. Terkadang, kelelahan fisik dan mental orang tua menjadi penghalang. Di sinilah pentingnya manajemen emosi orang tua sendiri.

  • Self-Care sebagai Amanah: Orang tua yang stres sulit untuk hadir secara emosional. Menjaga kesehatan mental sendiri adalah bagian dari menjaga amanah Allah (anak).

  • Istighfar dan Memulai Kembali: Tidak ada orang tua yang sempurna. Jika hari ini Anda gagal bersabar, mulailah esok dengan istighfar. Meminta maaf kepada anak atas kekhilafan kita justru akan mempererat kedekatan karena anak melihat kejujuran dan kerendahan hati kita.

Menurut riset dari Harvard University Center on the Developing Child, interaksi “serve and return” (aksi dan reaksi) antara orang tua dan anak adalah kunci utama pembentukan sirkuit otak anak. Dalam Islam, interaksi ini adalah sarana untuk mentransfer nilai-nilai kebaikan.

Dampak Jangka Panjang bagi Masa Depan Anak

Anak yang memiliki kedekatan emosional yang kuat dengan orang tuanya cenderung memiliki ketahanan mental (resilience) yang lebih baik. Mereka tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan negatif karena “tangki cintanya” sudah penuh di rumah.

 

Lebih dari itu, anak yang dekat dengan orang tuanya akan lebih mudah diajak untuk beribadah. Perintah shalat atau belajar mengaji tidak lagi dirasa sebagai beban, melainkan sebagai aktivitas bersama sosok yang mereka cintai. Inilah buah manis dari Tauhid yang diaplikasikan dalam pola asuh.

Kesimpulan

Membangun kedekatan emosional sejak dini adalah investasi dunia dan akhirat. Dimulai dari kehadiran yang tulus, komunikasi yang dilandasi rahmah, dan kesadaran bahwa anak adalah milik Allah yang dititipkan kepada kita. Saat kita memeluk anak kita, sejatinya kita sedang menjalankan amanah untuk menjaga fitrahnya.

Ingatlah, anak mungkin lupa apa yang Anda belikan, tetapi mereka tidak akan pernah lupa bagaimana perasaan mereka saat berada di dekat Anda. Mari kita jadikan rumah sebagai madrasah pertama yang penuh cinta dan cahaya Tauhid.

Keranjang Belanja