Parenting Bukan Tentang Mengatur Anak, Tapi Hadir Bersama Anak

Seorang ibu yang memarahi anaknya menyuruh belajar
Sumber: Ilustrasi Canva AI-Generated

Dalam hiruk-pikuk dunia modern, banyak orang tua terjebak dalam paradigma bahwa mendidik anak adalah soal kontrol. Kita sering merasa sukses jika anak patuh, diam saat diperintah, dan berjalan sesuai rel yang kita rancang. Namun, benarkah itu hakikat parenting yang sesungguhnya?

Jika kita membedah lebih dalam, pola asuh yang hanya mengandalkan instruksi dan aturan kaku justru sering kali menjauhkan hati anak dari orang tuanya. Parenting yang sejati bukanlah tentang mengatur setiap gerak-gerik anak, melainkan tentang hadir secara utuh (presence) bersama mereka. Dalam perspektif Islam, kehadiran ini adalah bentuk amanah dan manifestasi dari nilai-nilai Tauhid.

Memahami Esensi Kehadiran dalam Parenting

Banyak orang tua merasa sudah “bersama” anak karena berada di ruangan yang sama, padahal tangan memegang gawai dan pikiran melayang ke urusan pekerjaan. Ini disebut sebagai kehadiran fisik tanpa kehadiran jiwa.

Hadir bersama anak berarti memberikan perhatian penuh (mindful parenting). Saat anak berbicara, kita mendengarkan dengan mata dan hati. Saat anak menangis, kita menjadi pelabuhan yang aman, bukan hakim yang menghakimi perasaannya. Kehadiran inilah yang membangun bonding atau ikatan emosional yang kuat.

Tanpa ikatan ini, aturan apa pun yang kita buat akan terasa seperti beban bagi anak. Sebaliknya, dengan kehadiran yang berkualitas, anak akan merasa dicintai dan dihargai, sehingga mereka lebih mudah menerima arahan kita di masa depan. Untuk memahami lebih lanjut mengenai pondasi awal pendidikan karakter, silakan baca artikel kami tentang Cara Membangun Kedekatan Emosional dengan Anak Sejak Dini.

Mengintegrasikan Nilai Tauhid: Anak Adalah Milik Allah

Salah satu alasan mengapa orang tua terlalu terobsesi mengatur anak adalah karena merasa “memiliki” anak sepenuhnya. Di sinilah pentingnya mengintegrasikan nilai Tauhid dalam pola asuh.

1. Menyadari Posisi sebagai Amanah

Dalam Tauhid, kita meyakini bahwa pemilik hakiki dari anak kita adalah Allah SWT. Anak adalah titipan (amanah). Tugas kita bukan membentuk mereka menjadi apa yang kita mau, melainkan membantu mereka menjadi hamba Allah yang bertaqwa sesuai dengan fitrah unik yang Allah berikan kepada mereka.

2. Menghindari "Tuhan Kecil" di Rumah

Terkadang, tanpa sadar kita bersikap seolah-olah kita adalah penentu nasib anak. Kita merasa jika kita tidak mengatur setiap detiknya, masa depan anak akan hancur. Ini adalah bentuk kekhawatiran yang berlebihan. Dengan bertauhid, kita melakukan ikhtiar terbaik (parenting) lalu bertawakal. Kita hadir untuk membimbing, namun tetap menyadari bahwa hidayah dan keberhasilan mutlak di tangan Allah.

3. Mengajarkan Tauhid Melalui Keteladanan

Anak tidak belajar Tauhid hanya dari buku teks, tapi dari bagaimana orang tuanya bersikap. Saat kita hadir dengan penuh kesabaran, kasih sayang, dan kejujuran, kita sedang memantulkan sifat-sifat mulia yang diperintahkan oleh Allah. Kehadiran kita yang tenang mencerminkan kepercayaan kita pada takdir Allah.

Mengapa "Mengatur" Saja Tidak Cukup?

Terlalu dominan dalam mengatur (controlling) dapat berdampak negatif pada perkembangan psikologis anak. Beberapa riset menunjukkan bahwa anak yang dibesarkan dengan kontrol ketat cenderung memiliki rendah diri atau justru menjadi pemberontak di masa remaja.

  • Hilangnya Kreativitas: Anak takut mencoba hal baru karena takut salah di mata orang tua.

  • Kerapuhan Mental: Anak tidak belajar mengambil keputusan sendiri karena selalu “disetir”.

  • Jarak Emosional: Anak merasa tidak dipahami, sehingga mereka mencari validasi di luar rumah yang mungkin saja berisiko.

Penting bagi kita untuk membedakan antara memberi batasan (boundaries) dan mengatur (controlling). Batasan dibutuhkan untuk keamanan dan moralitas, sementara kontrol berlebihan mematikan karakter. Anda bisa mempelajari perbedaan ini di artikel [Mengenal Perbedaan Disiplin Positif dan Pola Asuh Otoriter].

Langkah Praktis Hadir Bersama Anak

Bagaimana cara mulai bergeser dari “mengatur” menjadi “hadir”? Berikut adalah langkah-langkah yang bisa Anda coba:

1. Langkah Praktis Hadir Bersama Anak

Sediakan waktu minimal 15-30 menit sehari untuk melakukan apa pun yang anak inginkan tanpa ada gangguan ponsel atau pekerjaan. Ikuti permainan mereka, dengarkan cerita mereka, dan masuklah ke dunia mereka.

2. Validasi Perasaan Mereka

Saat anak merasa sedih atau marah, jangan langsung berkata “Jangan menangis, itu hal sepele.” Kehadiran berarti mengakui perasaan mereka. Katakan, “Ayah/Ibu paham kamu merasa sedih karena mainanmu rusak.” Ini membuat anak merasa “didengar” dan “dilihat”.

3. Libatkan Allah dalam Percakapan Sehari-hari

Saat hadir bersama mereka, arahkan pandangan mereka kepada Sang Pencipta. Misalnya, saat melihat pelangi, alih-alih hanya mengatur mereka agar tidak lari-larian, ajaklah mereka bersyukur atas keindahan ciptaan Allah. Ini adalah cara menanamkan Tauhid yang organik. Strategi ini dibahas lebih dalam dalam panduan kami mengenai [Metode Menanamkan Akidah pada Anak Melalui Kegiatan Sehari-hari].

Kesimpulan: Parenting sebagai Perjalanan Spiritual

Parenting bukan sekadar proyek membesarkan manusia, melainkan perjalanan spiritual bagi orang tua itu sendiri. Dengan hadir bersama anak, kita belajar tentang kesabaran, keikhlasan, dan kerendahan hati—nilai-nilai utama dalam Tauhid.

Ingatlah bahwa anak-anak lebih butuh teladan daripada kritikan, dan lebih butuh kehadiran daripada instruksi. Menurut studi dari Psychology Today, kehadiran orang tua yang responsif adalah prediktor utama kesehatan mental anak di masa depan.

Mari kita ubah mindset kita. Anak bukan objek yang harus dikendalikan, melainkan subjek yang harus ditemani perjalanannya kembali kepada Allah. Dengan hadir utuh, kita tidak hanya mencetak anak yang sukses secara duniawi, tapi juga anak yang mengenal Tuhannya dengan cinta.

Shopping Cart